Selasa, 29 November 2011

Mengenal Cinta (3)

Berakhirnya hubungan ku dengan MAH tak seperti sebelumnya, walau hubungan itu udah terlalu dalam, mengaitkan keluarga dan orang-orang yang berharap hubungan itu berlanjut di pernikahan yang suci. Tapi aku tak sehancur dulu, karena aku yakin Allah SWT bersamaku, dan aku yakin itulah yang terbaik untuk kami walau mungkin menyakiti banyak orang. InsyaAllah semoga dapat menjaga silahturahmi dengan baik dan semoga Allah dapat menyembuhkan luka hatinya, dan mempertemukan dia dengan wanita yang beribu-ribu jauh lebih baik dari pada aku. amin.

Berakhirnya hubungan kami diawali dengan niat dan keyakinanku untuk menutup auratku, untuk menjaga apa yg aku punya, walau realitanya aku tak lagi punya apa-apa.. oh tidak, aku punya, punya dosa besar atas kesalahan-kesalahanku dulu. Aku berkeyakinan untuk memakai jilbab, mengubah pakaianku, walau tak sesempurna muslimah-muslimah lainnya, tapi insyaAllah dari hati yang paling dalam, semua seluruh hidupku, seluruh cintaku hanya ingin ku persembahkan pada DIA yang memberikan ku kasih sayang dan kesempatan untuk menjadi lebih baik lagi.

Begitupun dengan menjalin kasih, membayangkan berkasih, yess aku ingin segera menikah, aku bener-bener udah ga mau berbuat dosa lagi, dan aku ingin mencintai suamiku karena aku mencintai Allah, aku ingin suamiku dapat menjadi imamku, pembimbingku, pendampingku, segalanya menuju keridhoan Illahi. Selalu dan selalu itu doa dan pinta (jika boleh meminta) yang ku alunkan disetiap sujudku dan bayangku. Sampai tibalah ada seorang teman lama (PDK) yang yaahh pernah pacaran sama ku selama 9 hari, memintaku untuk menjadi kekasihnya, tapi dengan niatan ingin menikah tersebut, aku tak menerima dan menyatakan ingin menikah. Lalu tanpa disangka dia menyatakan bahwa dia ingin menikahi aku, secepatnya kapanpun aku siap dan bersedia. Dan saat itu juga aku bingung, apa yang harus aku lakukan, aku cuma dapat katakan, aku ingin bertemu, ingin berbicara langsung namun karena jarak yang tidak memungkinkan kami tidaklah dapat bertemu saat itu dan berjanji akan bertemu ketika lebaran.

Sepanjang perjalanan menuju tanggal yang ditetapkan untuk bertemu, aku terus berdoa, istikharah (saran dari ibu angkatku- siti yanti dan sahabatku-rahmi) dalam istikharah aku bertanya, apakah aku sudah pantas berumah tangga namun ku lupa untuk bertanya, apakah dialah jodoh yang Allah pilihkan. Dan jawaban dari doaku yaa.. aku sudah siap menikah, dan aku harus siap menikah. Karena itulah aku menyatakan kepada orang tua ku, niat ku untuk menikah, dan kebetulan ada lelaki yang hendak menikahiku. Aku dan dia pun sering berkomunikasi, membahas bagaimana anggaran pernikahan, bagaimana kami akan tinggal nantinya, bagaimana rumah kami nantinya, bagaimana penghasilannya, segalanya terkait masa depan. Sampai akhirnya lebaran pun datang, ibu ku meminta untuk dapat bertemu dengannya, dan ternyata setelah aku jalan sama dia, apa yang disebut kenyamanan itu tidaklah ada, ku berusaha sebaik mungkin senyambung mungkin, tapi tak ada, pantaslah setiap kali dia memanggil sayang (di sms dan telpon) aku langsung merinding, karena ternyata aku tak memiliki perasaan cinta itu kepadanya. Jangan tanya kenapa, aku pun tak tau. Dan akhirnya aku meminta dia untuk mengundurkan niat itu, dan mungkin mencoba untuk memulai dari awal saja, tapi ternyata respon dari dia negatif, dan yah semuanya berakhir... tapi ya menurut teman-teman kosan ku sih, dia ga cocok sama aku.. Waallahu'alam..

Dan tanpa kusadari, tanpa kurencanakan, tanpa ku prediksi, aku berkenalan dengan MAZT. Dia satu perusahaan denganku, yang menurut teman-temanku adalah sosok pria yang T.O.P yang calon suami impian, baik dalam sikapnya, akhlaknya, agamanya. Yesss aku kagum setengah mati dengan segala kelebihannya, dan terus menekan dan menyudutkan diri sendiri, menyadari siapa diriku, siapa aku, bagaimana aku.


be continued....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar