Senin, 28 November 2011

Mengenal Cinta (2)

setelah mengenal cinta pertama, hari-hari masih aku lalui dengan baik, dan berusaha dengan sebaik mungkin, seceria mungkin, bertemu dengan teman-teman lainnya saat aku mulai masuk bangku kuliah.

masih seperti aku yang dulu, yang senang berteman dengan siapa aja, yang okeee diajak jalan ama siapa aja, yang ga pernah berfikir negatif, yang terus berusaha untuk nikmati hidup, dan yaa tentu sajaa.. pacaran sama orang-orang baru lagi (walau rangenya hanya semingu, dua minggu, sebulan, 3 bulan) >,<

sampai di semester 4 aku dekat sama salah satu temen sekelas (FA) yang waktu itu menganggap dirinya sebagai cowok matrealistis, dan dengan kedekatan itu, dia mengalami kemajuan dalam belajarnya, sampai akhirnya (aku juga ga tau kenapa) dia menyatakan cinta, dan ingin pacaran sama ku... (itu masa yg sulit :p) aku coba share ke temen-temen lainnya, apa yang harus aku lakukan, secara dia itu playboy cap kapak loohh... cewek-ceweknya dan rayuannya itu duahsyat abis... dan dengan keseriusan itu akhirnya aku menerima dia jadi pacarku. Yess selama 8 bulan kami lalui dengan asem asin manis pahitnya orang pacaran, dari ini itu, sana sini, membuat rasa yang ada semakin tumbuh dan tumbuh, dia yang keras, dan aku yang (karena cinta) jadi sosok yg sangat penurut, yesss klop... dia merasa akulah bidadarinya, dan aku merasa dialah pangeranku.. semuanya aku lalui sama dia, semua keluargaku tahu tentang dia, setiap hari bertemu, kemana-mana bersama, belajar, makan, semuanya sampai dapat dikatakan, dimana ada aku pasti ada dia, dan dimana ada dia pasti ada aku >,< tapi ternyata kecemburuan, kesalahpahaman menghancurkan semuanya.. dan yess kami berpisah dengan segala perkelahian yang ada, segala caci maki yang ada, dan segala tetes air mata yang mengalir. Kami berdua terluka dengan apa yang terjadi, tapi tak bisa berhenti saling melukai, kami menangis dengan keadaan seperti itu, namun tak mampu mengembalikannya seperti sedia kala. Dan yah... disitu aku terpuruk, terpuruk untuk yang kedua kalinya, dan bahkan sangat-sangat terpuruk, sangat-sangat hancur, mencoba mati itu bukan suatu hal yang "ga normal" untukku, karena aku telah beberapa kali melakukannya. Yess mencoba mati...

sampai akhirnya aku sadar, bener-bener sadar, kalau dia ternyata bukanlah orang yang tepat. Dan aku masih punya keluarga, punya orang tua, yg dulu kucari perhatiannya, kini memperhatikan aku sepenuhnya, apa lagi yang kurang coba??? yaa aku memutuskan untuk bangkit... aku bangkit, aku berniat membanggakan mereka, namun tak henti menyesali diriku sendiri..

aku bertemu dengan lelaki lain (MAH), yang tak lain temen kuliahku (tapi saat itu kami sudah tamat), dia mulai mencoba meluluhkan hatiku, siap menerima aku apa adanya, dan yah... aku berfikir untuk mencoba kembali dengannya (ga salah kan ya??) lalu kami pun pacaran, dia mengenalkan aku pada keluarganya bahkan keluarga besarnya, dia yang anak tunggal menjadi kesayangan seluruh keluarga dan dengan membawaku, aku ikut menjadi kesayangan dikeluarganya. Ibunya yang sangat menyayangi aku, neneknya, pakde dan bude, pakle, semuanya sayang sekali sama ku, seluruh doa mereka terangi dengan menyebut namaku, dan karena pengalamanku yang menempahku menjadi seorang cewek yang mandiri membuat mereka merasa aku akan dapat membimbing dan sabar menemani anak, cucu dan keponakan mereka. Dan tentu saja aku berusaha, aku berusaha membimbingnya (dengan segala kelemahanku) mengingatkannya, mendoakannya, selalu berusaha ada untuknya, sampai aku keterima kerja diluar kota, semuanya berubah dia semakin menjadi, semakin pencemburu, selalu berfikir negatif atas semua aktivitasku, dan yapp maafkan aku yg ternyata tak sekuat itu, hubungan selama 1 Tahun 6 Bulan pun kandas dengan perselisihan (menurut dia) aku mencoba sebaik mungkin, aku mendatangi orang tuanya, meminta maaf atas ketidaksanggupanku menjalani dengannya. Dan untuk seterusnya mereka tetep menjadi keluargaku.

Dear Biyung & Romo,
Maafin lia ya biyung, biyung yg banyak mengajarkan lia bagaimana menjadi seorang wanita, mengajarkan lia arti keluarga, menyayangi lia tanpa imbalan apapun, maafin lia yang udh menyakiti biyung dan romo, merusak segala impian, tapi lia sungguh tak sanggup lagi, lia tak mampu menjalani semuanya lagi. Dan untuk Alm. Nenek, nenek tau lia sayang sekali sama nenek, walau tanpa aliran darah yg sama, nenek adalah nenek lia, lia sayang,lia rindu sama nenek.. maafin lia yg tak bisa ada disaat nenek menghembuskan nafas terakhir, bahkan untuk ziarah kerumah nenek yg baru pun lia belum mampu... tapi nenek pasti tau, lia selalu mendoakan nenek.. lia sayang kalian semua :')



be continued.....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar